Literatur β Menerbitkan buku secara mandiri tanpa melalui penerbit, memiliki beberapa kekurangan. Segala sesuatunya dilakukan sendiri, mulai dari membuat desain cover, mengatur tata letak layout (layouting), melakukan editing sendiri. Tentunya hal ini akan menyita banyak waktu.
Daftar Isi Artikel
Sehingga, apabila kamu bisa mengerjakannya sendiri, maka biayanya FREE alias GRATIS!
Namun, jika tidak bisa melakukannya sendiri, maka harus membayar jasa kepada yang bisa. Mulai dari jasa bikin cover buku, jasa layouting, jasa editing propesional, hingga bayar jasa untuk pembuatan illustrasi.
Beberapa penerbit indie, menyediakan layanan jasa tersebut. Dan bisanya sudah dijadikan paket penerbitan. Kamu cukup bayar sekali, dan semuanya sudah dibantu proses pembuatannya.
Selain itu, apa saja kekurangan dan dampak negatif menerbitkan buku secara mandiri?
Pada artikel ini akan dijelaskan beebrapa kekurangan menerbitkan buku secara mandiri
1. Keterbatasan Sumber Daya

Kekurangan yang pertama dari menerbitkan buku secara mandiri adalah keterbatasan sumber daya. Dalam beberapa kasus, penulis mungkin tidak memiliki akses ke sumber daya yang diperlukan untuk menerbitkan buku dengan baik.
Beberapa dari sumber daya tersebut sudah disebutkan sebelumnya, yaitu:
- Desain sampul buku
- Desain ilustrasi
- Layouting / Pengaturan tata letak
- Editing profesional, dan
- Jaringan promosi buku
Sehingga untuk menerbitkan buku secara mandiri penulis harus mengeluarkan biaya untuk membayar semua jasa tersebut.
2. Risiko Plagiarisme

Di zaman yang serba digital, plagiarisme menjadi semakin mudah dilakukan dan merupakan resiko yang harus diperhatikan ketika menerbitkan buku secara mandiri.
Jika penulis mengambil konten atau ide dari sumber lain tanpa izin atau mengabaikan hak cipta, ia dapat dituntut secara hukum.
Oleh sebab itu, penulis harus memperhatikan keaslian tulisan mereka. Jika perlu, lakukan pengecekan plagiarisme sebelum menerbitkan buku.
Baca juga: Cara Membaca Buku Agar Masuk Ke Otak
3. Tidak Terjaminnya Kualitas

Penerbit Buku memiliki standar kualitas tertentu yang harus dipenuhi oleh buku yang mereka terbitkan.
Mereka memiliki editor profesional yang memastikan kualitas tulisan dan desainer profesional yang memastikan kualitas layout dan desain buku.
Kemudian, penerbit buku juga memiliki standar kualitas yang ketat untuk kertas, tinta, dan penjilidan buku.
Namun, ketika menerbitkan secara mandiriβpenulis memiliki kontrol penuh atas produksi buku mereka. Sehingga memungkinkan tidak memperhatikan standar kualitas yang sama seperti penerbit tradisional.
Kasus semacam itu, tentu akan berpengaruh langsung terhadap hasil akhir buku yang diproduksi. Dan fatalnya, apabila kualitas buku jelek kemungkinan pembaca akan kapok membeli buku yang sudah kamu buat.
4. Jaringan pemasaran Dan Distribusi Terbatas

Penerbit buku profesional, biasanya memiliki jaringan distribusi yang luas. Baik secara online maupun secara offline.
Penerbit juga memiliki anggaran pemasaran yang besar untuk mempromosikan buku mereka. Namun, ketika menerbitkan buku secara mandiri, penulis harus menangani distribusi dan pemasaran buku mereka sendiri.
Lihat juga: Manfaat Buku Untuk Pengusaha & Pengembangan Bisnisnya
Artinya, ini akan menjadi tantangan, terutama bagi penulis yang kurang berpengalaman dalam pemasaran dan promosi buku.
Tanpa adanya koneksi jaringan pemasaran dan distribusi, tentu sulit untuk meningkatkan penjualan buku.
5. Tidak Diakui Industri Penerbitan

Kekurangan menerbitkan buku secara mandiri selanjutnya adalah kemungkinan besar tidak diakui oleh industri penerbitan.
Sebab, industri penerbitan buku diatur langsung oleh Perpusnas. Dan penerbit buku profesional biasanya tergabung di dalam himpunan profesi penerbit. Di Indonesia dinaungi oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).
Berbeda ketika kamu menerbitkan buku secara mandiri, tanpa bantuan penerbit buku. Kemungkinan besar bukunya hanya diedarkan di kalangan terbatas.
6. Tidak Ada Perlindungan Hukum

Penerbit buku yang resmi tentunya memiliki badan hukum. Baik itu dalam bentu CV (Persekutuan komanditer) ataupun PT (Perseroan Terbatas).
Ketika sebuah usaha memiliki badan hukum, tentunya dilindungi secara hukum dan memiliki kekuatan hukum.
Ketika menerbitkan buku secara mandiri, tanpa bantuan penerbit buku. Secara otomatis, bukumu tidak memiliki perlindungan hukum. Ini berakibat fatal, karena besar kemungkinan membuka celah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, untuk melakukan plagiat.
Solusinya, apabila tidak ingin menerbitkan buku secara mandiri. Maka segera dafatarkan Hak Cipta melalui DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual).
7. Terbatasnya Promosi Jangka Panjang

Saat ini, penjualan buku sering bergantung pada promosi di media sosia, toko buku onlinel dan mesin pencari.
Promosi ini harus dilakukan secara jangka panjang agar buku tetap eksis di antara ribuan buku lainnya.
Tentu, ini bisa menjadi tantangan untuk penulis yang kurang berpengalaman dalam pemasaran dan promosi.
8. Riskan; Kesalahan atau cacat dalam Produksi

Kesalahan dalam proses produksi merupakan kekurangan menerbitkan buku secara mandiri. Dengan beragam keterbatasan penulis, hal ini sangat riskan sekali.
Produksi buku mandiri melibatkan banyak tahap, dari penulisan, penyuntingan, proofreading, desain sampul, layout, dan percetakan.
Ada risiko kesalahan yang mungkin terjadi pada setiap tahap produksi. Misalnya, tulisan yang kurang bagus, kesalahan tata letak, atau bahkan kesalahan penjilidan.
Kesalahan semacam ini bisa mempengaruhi kualitas buku dan merusak reputasi penulis.
9. Kurangnya Dukungan Finansial

Tidak semua penulis memiliki finansial yang memadai, tak jarang penulis hebat yang lahir dari keterbatasan.
Nah, untuk menerbitkan buku secara mandiri sudah diketahui bahwa memerlukan biaya yang memadai.
Oleh karenanya, daripada karya tulis tandas begitu saja dan tidak diterbitkan. Alangkah baiknya menurunkan ego, untuk tidak menerbitkan secara mandiri.
Penulis bisa mencari alternatif lain. Misalnya mengikuti program penerbitan buku gratis yang dilaksanakan penerbit buku. Atau melakukan kerja sama dengan penerbit buku.
Dengan demikian karya tulismu bisa diterbitkan menjadi buku cetak.
Layanan kami: Jasa Konversi Disertasi Menjadi Buku
10. Kecil Kemungkinan Untuk Best Seller

Buku-buku best seller biasanya lahir dari penerbit buku sudah memiliki nama. Atau penerbit buku yang menangani naskah secara profesional.
Jarang sekali buku best seller lahir dari hasil menerbitkan secara mandiri. Kecuali, memang penulis itu memiliki pangsa pasar atau followers yang banyak. Dan inipun tidak menjamin penjualan bukunya akan laris.
Mungkin tak jauh; seperti kata pepatah
βDibalik buku best seller, selain ada penulis hebat juga ada tim editorial yang handalβ.
Literatur.id
Memahami 10 kekurangan menerbitkan buku secara mandiri mungkin dapat membuat kamu berpikir ulang.
Perlu dicatat! Tidak ada larangan untuk menerbitkan buku secara mandiri, informasi tadi hanya sebuah gambaran agar penulis dapat mempertimbangkan ulang.
Menerbitkan buku melalui penerbit buku juga belum tentu laku, belum tentu best seller dan belum tentu sukses. Jadi, semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masaing, ya.
Semangat terus berkarya β¦, semangat terus penulis-penulis hebat Indonesia.
Semoga informasi ini bermanfaat, terutama untuk kamu yang ingin menerbitkan buku.
