Jangan Wariskan Luka
Rp 56.000
BUKU cEtak
VERSI E-BOOK
Description
Gelas itu jatuh dari tangan kecilnya, memantul sekali di lantai, lalu air menyebar ke mana-mana — ke bawah kursi, ke ujung karpet, hampir kena kabel charger yang menjuntai dari stop kontak.
“ASTAGA, KAMU TUH YA—”
Suara sendiri, tapi rasanya bukan milik sendiri. Terlalu keras, terlalu cepat, terlalu… familiar.
Anak itu diam. Bahunya naik ke telinga, matanya sudah berkaca-kaca duluan sebelum sempat kena marah lebih jauh. Tangannya masih menggenggam gelas kosong, seolah kalau digenggam lebih erat, kejadian tadi bisa ditarik mundur.
Hening sebentar. Cuma suara air yang masih menetes dari ujung meja.
Dan di tengah hening itu, ada satu pertanyaan kecil yang muncul, entah dari mana — itu tadi suara siapa, sih?
Karena rasanya, itu bukan reaksi yang dipilih. Itu reaksi yang datang duluan, sebelum sempat berpikir. Dan anehnya, kalau diingat-ingat lagi… nada itu familiar. Familiar banget. Seperti pernah didengar. Bertahun-tahun lalu. Dari orang lain. Di rumah lain. Dalam tubuh yang lebih kecil.








